Ilustrasi : Poin Penting
WASHINGTON, Poin Penting — Ekonomi Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan tumbuh 4,5% pada 2026 di tengah berbagai tekanan ekonomi global. World Bank menilai kawasan tersebut memiliki peluang besar untuk memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), meski tingkat adopsinya masih belum merata.
Dalam laporan ekonomi terbaru untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik yang dirilis pada 6 Oktober 2026, World Bank menyebut pertumbuhan ekonomi kawasan tetap menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global.
Sejumlah negara bahkan tumbuh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, terutama karena produksi dan ekspor barang berteknologi tinggi yang ikut menopang lonjakan aktivitas terkait AI secara global.
Vietnam dan Malaysia Tumbuh Lebih Cepat
World Bank menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Vietnam pada 2026 sebesar 1,1 poin persentase menjadi 7,4%.
Proyeksi pertumbuhan Malaysia juga dinaikkan 0,7 poin persentase menjadi 5,1%. Sementara itu, pertumbuhan Thailand diproyeksikan mencapai 2,0%, atau naik 0,7 poin persentase dari perkiraan sebelumnya.
Namun, pertumbuhan kawasan tidak berlangsung merata.
Negara-negara kepulauan Pasifik diproyeksikan tumbuh 2,2%, lebih rendah 0,5 poin persentase dari perkiraan sebelumnya. World Bank menyebut negara-negara tersebut rentan terhadap tingginya harga energi dan memiliki ruang yang terbatas untuk menghadapi guncangan eksternal.
Sementara itu, China sebagai ekonomi terbesar di kawasan diproyeksikan tumbuh 4,4%. Pertumbuhan tersebut masih menghadapi tekanan dari lemahnya pasar tenaga kerja dan penyesuaian yang berlangsung di sektor properti.
AI Mulai Mengubah Kebutuhan Tenaga Kerja
World Bank menilai Asia Timur dan Pasifik memiliki posisi strategis untuk memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas ekonomi berbasis AI karena keterhubungan kawasan dengan rantai pasok global.
Namun, manfaat tersebut belum tersebar secara merata.
Adopsi AI oleh individu dan perusahaan memang meningkat, tetapi masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju. Beberapa kendala yang dihadapi perusahaan antara lain biaya yang tinggi, keterbatasan keahlian, serta kekhawatiran mengenai keamanan dan privasi.
Untuk sebagian besar negara di kawasan, World Bank menilai peluang jangka pendek terbesar justru dapat berasal dari penggunaan teknologi AI yang sudah tersedia dan kemudian disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Pendekatan tersebut disebut sebagai “Small AI”, yakni pemanfaatan teknologi AI yang lebih mudah diakses untuk meningkatkan produktivitas tanpa harus membangun teknologi AI dari awal.
Baru 13% Pekerjaan Masuk Kategori Berpikir Kompleks
Perkembangan AI juga mulai mengubah kebutuhan keterampilan di pasar tenaga kerja.
World Bank mencatat AI sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap pekerjaan yang dapat diotomatisasi. Namun, perusahaan semakin membutuhkan pekerja yang memiliki kemampuan AI, analitis, dan keterampilan sosial.
AI dinilai paling efektif dalam mendukung pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berpikir kompleks dan pengambilan keputusan.
Masalahnya, hanya sekitar 13% pekerjaan di Asia Timur dan Pasifik yang masuk dalam kategori tersebut. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju yang mencapai 39%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan tenaga kerja menjadi salah satu faktor penting agar kawasan dapat memperoleh manfaat ekonomi dari perkembangan AI.
World Bank Dorong Tiga Langkah
Untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan pekerjaan yang lebih produktif, World Bank merekomendasikan tiga langkah utama.
Pertama, negara-negara perlu memperluas adopsi AI dengan memperkuat iklim usaha, infrastruktur energi dan digital, pembiayaan, serta keterampilan tenaga kerja.
Kedua, AI perlu disesuaikan dengan kebutuhan lokal untuk menciptakan pekerjaan yang lebih baik. World Bank mencontohkan penggunaan teknologi dengan bahasa lokal yang terjangkau di sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dalam skala besar, seperti pariwisata dan agribisnis.
Ketiga, pemerintah perlu memanfaatkan perannya sebagai pengguna sekaligus regulator AI untuk meningkatkan layanan publik, memperkuat fondasi digital, mengembangkan regulasi, serta memperluas kerja sama regional.
Tantangan Berikutnya Bukan Sekadar Memproduksi AI
World Bank melihat kawasan Asia Timur dan Pasifik telah memperoleh manfaat dari posisinya sebagai bagian penting dalam rantai pasok global, termasuk melalui produksi barang yang mendukung peningkatan investasi AI.
Namun, tantangan berikutnya adalah memperluas manfaat tersebut ke sektor ekonomi yang lebih luas.
Dengan pertumbuhan ekonomi kawasan yang diproyeksikan mencapai 4,5% pada 2026, kemampuan negara-negara di kawasan dalam memperluas adopsi AI, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan lokal akan menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja yang lebih produktif.