Foto : Dokumen Kemenkeu
Jakarta, Poinpenting — Pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun hingga 30 September 2026, tumbuh 25,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, pemerintah merealisasikan belanja negara sebesar Rp2.660,5 triliun atau tumbuh 19% secara tahunan.
Pemerintah mencatat penerimaan pajak sebesar Rp1.607,6 triliun hingga 30 September 2026, tumbuh 24,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya..
Pada periode yang sama, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp240,1 triliun atau tumbuh 8,5% secara tahunan. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp492,3 triliun dengan pertumbuhan 41,7%.
Ketiga komponen tersebut membentuk total pendapatan negara sebesar Rp2.341,5 triliun. Kementerian Keuangan mencatat realisasi tersebut setara dengan 74,2% dari target pendapatan negara dalam APBN 2026.
Belanja Negara Tumbuh 19%
Pemerintah merealisasikan belanja negara sebesar Rp2.660,5 triliun hingga akhir September 2026. Nilai tersebut tumbuh 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan mencapai 69,2% dari anggaran.
Belanja Pemerintah Pusat (BPP) mencapai Rp2.061,3 triliun. Dari jumlah tersebut, belanja kementerian/lembaga (K/L) mencapai Rp1.069,4 triliun, tumbuh 33,5% secara tahunan. Adapun belanja non-K/L mencapai Rp991,9 triliun atau tumbuh 25,7%.
Sementara itu, pemerintah telah menyalurkan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp599,2 triliun. Realisasi tersebut mencapai 86,5% dari anggaran TKD dalam APBN.
Dalam siaran persnya, Kementerian Keuangan menyatakan bahwa pemerintah terus mengoptimalkan transfer ke daerah untuk mendukung penyediaan layanan dasar dan pembangunan daerah.
Defisit APBN Tercatat 1,24% terhadap PDB
Hingga 30 September 2026, defisit APBN tercatat sebesar 1,24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada saat yang sama, keseimbangan primer mencatat surplus Rp125,5 triliun.
Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa pemerintah mengelola kebijakan fiskal dengan tetap memperhatikan kesinambungan fiskal. Pemerintah juga menyatakan akan terus mengoptimalkan APBN untuk mendukung aktivitas ekonomi dan investasi, melindungi daya beli masyarakat, serta menjalankan agenda pembangunan prioritas.
PMI Manufaktur Indonesia Mencapai 52,4
Selain perkembangan APBN, Kementerian Keuangan melaporkan PMI Manufaktur Indonesia pada September 2026 mencapai 52,4, meningkat dari 49,8 pada Agustus 2026.
Dalam siaran pers tersebut, pemerintah menjelaskan bahwa permintaan yang semakin solid, ekspansi produksi, serta peningkatan aktivitas pembelian dan persediaan input turut memperkuat PMI manufaktur Indonesia.
PMI manufaktur merupakan indikator aktivitas sektor manufaktur. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi berdasarkan indikator tersebut.
Neraca Perdagangan Mencatat Surplus US$3,55 Miliar
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$3,55 miliar pada Agustus 2026. Secara kumulatif, neraca perdagangan selama Januari–Agustus 2026 mencatat surplus US$7,3 miliar.
Kementerian Keuangan menyebut ekspor yang tetap tumbuh dan pertumbuhan impor yang terkendali turut mendorong surplus perdagangan pada Agustus 2026.Namun, siaran pers yang menjadi dasar artikel ini tidak merinci nilai ekspor dan impor dalam bagian informasi yang lu kirim.
Aliran Modal Masuk Mencapai Rp131,1 Triliun
Kementerian Keuangan juga melaporkan aliran modal masuk ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp131,1 triliun secara kumulatif hingga awal Oktober 2026. Menurut siaran pers tersebut, aliran modal terutama ditopang oleh Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selain itu, pemerintah menyampaikan bahwa spread yield SBN rupiah tenor 10 tahun terhadap United States Treasury (UST) tenor 10 tahun menyempit menjadi 188 basis poin (bps). Siaran pers tersebut membandingkan angka itu dengan selisih imbal hasil yang dapat mencapai 1.000 bps sekitar dua dekade lalu.
Kementerian Keuangan menyatakan pemerintah akan melanjutkan kebijakan fiskal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan investasi, memperkuat daya beli masyarakat, serta menjaga kesinambungan fiskal.
Catatan Poin Penting
- Pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun hingga 30 September 2026, tumbuh 25,5% secara tahunan.
- Penerimaan pajak mencapai Rp1.607,6 triliun, kepabeanan dan cukai Rp240,1 triliun, serta PNBP Rp492,3 triliun.
- Hingga 30 September 2026, pemerintah telah mengeluarkan Rp2.660,5 triliun untuk belanja negara, naik 19% dari periode yang sama tahun lalu.
- Defisit APBN tercatat 1,24% terhadap PDB, sedangkan keseimbangan primer mencatat surplus Rp125,5 triliun.
- Defisit APBN tercatat 1,24% terhadap PDB, sedangkan keseimbangan primer mencatat surplus Rp125,5 triliun.
- PMI Manufaktur September 2026 mencapai 52,4 dan neraca perdagangan Agustus mencatat surplus US$3,55 miliar.