Foto : Menteri Keuangan Suahasil Nazara (Kemenkeu)
Jakarta, Poinpenting — Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 52,4 pada September 2026 dari 49,8 pada Agustus. Kenaikan ini membawa aktivitas manufaktur nasional kembali ke zona ekspansi setelah sebelumnya berada di bawah level 50, menurut data yang disampaikan Kementerian Keuangan.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan perkembangan tersebut dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Ia menilai PMI di atas 50 mengindikasikan aktivitas industri manufaktur sedang mengalami ekspansi. Penguatan itu sejalan dengan perbaikan sejumlah indikator, mulai dari permintaan, produksi, penyerapan tenaga kerja, hingga pembelian bahan baku.
PMI Kembali ke Zona Ekspansi
PMI manufaktur merupakan indikator yang digunakan untuk melihat arah aktivitas industri. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi.
Dengan PMI mencapai 52,4, kondisi manufaktur Indonesia pada September menunjukkan perbaikan dibandingkan Agustus yang tercatat 49,8. Namun, indeks ini menggambarkan arah perubahan aktivitas bisnis, bukan secara langsung besarnya pertumbuhan produksi manufaktur dalam persentase.
Dalam paparannya, Suahasil juga menyebut sekitar 75 persen negara mencatat PMI manufaktur di atas 50 pada akhir September. Sementara itu, sekitar 25 persen negara lainnya masih berada di bawah ambang tersebut.
Data itu menunjukkan bahwa ekspansi manufaktur terjadi di banyak negara, meskipun kondisi masing-masing industri dapat berubah dari bulan ke bulan. Bagi Indonesia, perkembangan permintaan global menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan bersama kondisi pasar domestik.
Permintaan Menguat, Produksi Berpotensi Bertambah
Menurut Suahasil, salah satu faktor yang mendukung kenaikan PMI manufaktur Indonesia adalah menguatnya permintaan domestik. Permintaan yang meningkat mendorong pelaku industri menyesuaikan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar, termasuk pesanan ekspor.
Peningkatan permintaan dapat memengaruhi keputusan perusahaan dalam mengatur kapasitas produksi dan kebutuhan operasional. Jika pesanan berlanjut, perusahaan perlu memastikan ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja agar proses produksi dapat berjalan sesuai kebutuhan.
Meski demikian, perkembangan permintaan dan produksi tetap perlu dipantau pada periode berikutnya untuk mengetahui apakah penguatan aktivitas industri dapat dipertahankan.
Penyerapan Tenaga Kerja dan Persediaan Bahan Baku Meningkat
Indikator lain yang disoroti pemerintah adalah penyerapan tenaga kerja yang kembali berada dalam fase ekspansi. Kenaikan kebutuhan tenaga kerja menjadi salah satu sinyal aktivitas usaha yang membaik, sementara peningkatan tumpukan pesanan atau backlog mengindikasikan masih adanya pekerjaan yang perlu diselesaikan oleh pelaku industri.
Selain itu, pembelian dan persediaan bahan baku juga meningkat. Perusahaan biasanya menyesuaikan pengadaan input dengan kebutuhan produksi dan perkiraan permintaan. Karena itu, kenaikan persediaan menjadi salah satu indikator yang diamati dalam membaca arah aktivitas manufaktur.
Namun, peningkatan stok bahan baku tidak dengan sendirinya menjamin produksi atau penjualan akan terus naik. Perkembangan tersebut tetap bergantung pada realisasi pesanan, kondisi pasar, dan kemampuan perusahaan mengelola persediaan.
Tekanan Harga Relatif Melandai
Suahasil turut menyoroti tekanan harga yang relatif melandai. Harga input dan output disebut mengalami pelandaian terbatas, sementara pelaku industri justru meningkatkan pembelian serta persediaan bahan baku.
Kondisi harga menjadi salah satu pertimbangan dalam keputusan operasional perusahaan. Perubahan harga bahan baku dapat memengaruhi biaya produksi, sedangkan harga produk akhir turut berkaitan dengan daya saing dan permintaan pasar.
Kombinasi permintaan, produksi, tenaga kerja, pembelian bahan baku, dan perkembangan harga menjadi sejumlah indikator yang digunakan untuk membaca kondisi sektor manufaktur.
Catatan Poinpenting: PMI manufaktur Indonesia mencapai 52,4 pada September 2026 setelah berada di level 49,8 pada Agustus. Keberlanjutan ekspansi perlu dilihat dari perkembangan pesanan, produksi, tenaga kerja, dan permintaan pada bulan-bulan berikutnya.