Foto : Grafik Naik Turun
Jakarta, Poinpenting — Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai struktur teknikal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bearish pada Jumat, 9 Oktober 2026. Dalam catatan Strategy Notes & JCI Technical View yang disusun analis M. Nafan Aji Gusta, CTA, CSA, level support IHSG berada di 5.973 dan 5.851, sedangkan resistance berada di 6.180 dan 6.267.
Tekanan pasar tercermin dari kinerja IHSG sejak awal tahun yang tercatat minus 30,25% serta akumulasi penjualan bersih investor asing sebesar Rp110,28 triliun. Meski struktur tren masih lemah, catatan Mirae menunjukkan indikator Stochastic K_D dan Relative Strength Index (RSI) memberikan sinyal positif yang disertai peningkatan volume perdagangan.
Struktur Bearish Masih Bertahan
Level support menjadi area yang perlu dicermati untuk melihat kemampuan IHSG menahan tekanan jual. Support pertama berada di 5.973, sedangkan 5.851 merupakan level berikutnya jika tekanan terhadap indeks berlanjut.
Di sisi lain, IHSG menghadapi resistance pada 6.180 dan 6.267. Pergerakan menuju area tersebut perlu diamati bersama perkembangan volume perdagangan dan indikator teknikal.
Sinyal positif dari Stochastic K_D dan RSI belum dengan sendirinya memastikan pembalikan tren. Karena itu, struktur bearish yang disebut dalam catatan Mirae tetap menjadi konteks utama untuk membaca pergerakan indeks.
Harga Minyak dan Risiko Inflasi Global
Catatan Mirae turut menyoroti kenaikan harga minyak di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dalam data yang dicantumkan pada analisis tersebut, minyak Brent naik 3,87% menjadi US$104,08 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,29% ke US$91,18 per barel.
Kenaikan harga energi berpotensi menambah tekanan inflasi. Jika tekanan harga bertahan, ruang bagi bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, untuk melonggarkan kebijakan moneternya dapat menjadi lebih terbatas.
Mirae juga menyinggung potensi gangguan produksi sementara di Teluk Meksiko terkait ancaman Badai Isaias. Perkembangan geopolitik dan pasokan energi tersebut menjadi bagian dari risiko eksternal yang dapat memengaruhi sentimen investor.
Rupiah dan Arus Dana Asing Jadi Perhatian
Dari dalam negeri, catatan Mirae mencatat rupiah melemah 0,16% ke Rp17.915 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar dan arus dana asing menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca sentimen investor terhadap aset domestik.
Secara akumulatif sejak awal 2026, penjualan bersih investor asing di pasar saham tercatat sebesar Rp110,28 triliun dalam catatan tersebut. Angka ini menggambarkan tekanan arus dana asing sepanjang tahun berjalan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh penyebab pelemahan IHSG.
Pergerakan rupiah, arus dana asing, harga komoditas, dan arah kebijakan moneter global perlu dicermati secara bersamaan untuk memahami perubahan sentimen pasar.
Cadangan Devisa Indonesia US$146,3 Miliar
Di tengah tekanan eksternal, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar, turun dari US$146,5 miliar pada akhir Agustus. Bank Indonesia menyebut posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Menurut Bank Indonesia, posisi cadangan devisa tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Cadangan devisa juga berperan mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi.
Meski demikian, posisi cadangan devisa tersebut tidak menghilangkan risiko yang berasal dari pergerakan nilai tukar, arus modal, maupun perkembangan pasar global.
Pergerakan IHSG Masih Perlu Dicermati
Struktur teknikal IHSG yang masih bearish menempatkan level support 5.973 dan 5.851 sebagai area penting untuk dicermati, sementara resistance berada di 6.180 dan 6.267. Perkembangan harga minyak, pergerakan rupiah, dan arus dana asing juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca arah pasar.